Pidato Ketua DPD KNPI Pada Acara Pelantikan

Bapak Gubernur Dearah Istimewa Yogyakarta
Ketua DPP KNPI beserta seluruh jajarannya
Kepala SKPD Se Daerah Istimewa Yogyakarta
Ketua MPI DPD KNPI DIY beserta seluruh anggotanya
Tamu Undangan dan Organisasi Kepemudaan se Daerah Istimewa Yk Rekan rekan Pengurus DPD KNPI DIY

Asslamu’alaikum warohmatulloh hiwabarokatuh.

Saudara-saudaraku sekalian!
Hari ini adalah hari pertama kita (KNPI) diberi mandat untuk bekerja..
Kita dilantik bukan hanya sekedar untuk menjadi anggota. Tapi saya katakan disini, kita dilantik untuk menjalankan peran. Yakni peran membuat sejarah.
KNPI sudah lama lahir di bumi Indonesia ini. Tapi sampai hari ini orang masih berfikir, KNPI hanyalah alat pemerintah. Hanya bentukan dari Orde Baru semata. Hanya organisasi-organisasian, kepemuda-pemudaan semata. Sudah saatnya kita membuktikan kepada mereka yang di luar sana. Bahwa KNPI juga punya agenda. Punya tujuan. Punya “roh pergerakan” saudara-saudara.

Kita buktikan pada orang di luar sana bahwa kita bukan sedang main adegan di dalam kandang. Tapi kita juga punya visi yang jelas. Dan hari ini adalah momentum bagi kita untuk menegaskan kembali peranan pemuda dalam kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, sudah waktunya saudara-saudara.. Sudah waktunya. Sudah waktunya kita melakukan reposisi. Kita membenahi kembali posisi pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita tak boleh lagi merasa diri seperti remaja, yang hanya dicekoki. Yang hanya jadi gerombolan hore-hore. Karena kelak kita lah yang bakal menahkodai kemana bangsa ini hendak berlayar. Kemana rakyat Indonesia hendak kita bawa. Kita pun tak boleh takut, tak boleh gentar, tak boleh minder. Hanya karena belum menjadi bangsa yang maju.

Di generasi kita besok, Benua Asia menjadi sorotan dunia. Asia Pasifik menjadi pusat ekonomi, pusat perdagangan bahkan pusat peradaban. Dan Indonesia menjadi titik segala aktivitas dunia itu berlangsung. Bahkan hari ini situasi itu sudah dimulai, sudah di depan mata kita. Kita disini hendak melaksanakan tugas yang berat, tugas membangun sejarah, tugas untuk menyongsong pergeseran poros dunia. Ini sudah takdir sejarah, kita tak bisa menolak. Jika kita diam, acuh tak acuh, menganggap ini tak penting. Kita lah yang bakal digulung peradaban.
Dulu, kemajuan ekonomi ada di Barat, di Eropa dan di Amerika begitu pula kemajuan budaya dan kemajuan pengetahuan sampai teknologi. Globalisasi pun mengambil bentuk Eropa, mengambil bentuk Amerikanisasi. Kita pun banyak mengimpor, banyak di serbu produk- produk, ilmu-ilmu pengetahuan, teknologi-teknologi sampai nilai-nilai budaya ala Barat, ala Amerika. Bahkan cara hidup, cara berfikir dan cara merasa kita sekarang adalah produk dari peradaban itu. Namun kini dunia sedang bergejolak hebat. Sedang membentuk arus untuk menggulung. Menggulung dan menyambar ke lautan Teduh, lautan Pasifik.
Kelak, kemajuan bukan datang dari Eropa, bukan pula dari Amerika. Tapi dari Asia, saudara-saudara. Eropa dan Amerika adalah masa lalu. Dan masa depan ada di Asia Pasifik. Masa depan ini perlu kita bangun, perlu kita hidupkan, perlu kita rancang dari sekarang. Karena tidak ada perubahan yang ready for use. Perubahan datang dari pergulatan yang susah payah. Dan kita harus siap untuk bersusah payah. Kita tak boleh jadi bangsa yang instan, bangsa yang mau langsung pakai. Karena kemajuan tak bisa dipesan, tak bisa di daur ulang. Kemajuan hanya bisa terwujud dari kesadaran dan kerja keras.
Pertanyaanya, apa yang perlu kita persiapkan?

Setahun yang lalu, dalam Rekerda KNPI, Ngarso dalem sudah menyampaikan, bahwa kita harus memutar kompas, mengubah orientasi, yakni dari “Among Tani ke Dagang Layar”, sebagai wujud Renaissance Yogyakarta. Wilayah kita 70% adalah lautan, dan luasnya tujuh kali luas Jepang atau tiga kali luasnya Prancis, Tapi nampaknya, budaya bahari kita makin lama makin luntur. Jiwa maritim kita makin lama makin kabur. Sudah hampir 50 tahun pembangunan kita tak menyentuh aspek maritim. Tak lagi mengurus lautan kita yang maha luas. Padahal kelak pusat perkembangan dunia ada di wilayah lautan kita, ada wilayah perairan kita. Jika kita masih saja tenggelam ke dasar daratan yang menyesakan dan sempit. Maka kita hanya menjadi bulan-bulanan negara lain.
Untuk itu, generasi muda seperti kita harus segera sadar, harus segera bangkit dari keterpurukan. Kita tak boleh jadi generasi yang terputus dari sejarah, terpisah dari bumi yang kita pijak. Sekarang tugas kita adalah mengembangkan cakrawala berfikir, mengembangkan wawasan Nusantara
yang selama ini ditenggelamkan, untuk menjadi bekal kelak kita memimpin bangsa yang besar ini.

Oleh karena itu, di generasi kita kelak kekuatan tak lagi bertumpu pada kekayaan, bukan pula bertumpu pada barikade tentara, saudara-saudara. Bekal sebuah bangsa untuk bersaing di kemudian hari di pentas dunia, bukan pada banyaknya kekayaan yang ia punya, bukan pula dari kuatnya barisan tentara yang ia bangun. Tapi bertumpu pada kekuatan pengetahuan yang ia miliki. Kekuatan masa depan adalah kekuatan pikiran, saudara-saudara. Power of knowledge.

Sehingga kita mulai hari ini harus mempersiapkan sebuah organisasi yang sehat, sebuah organisasi yang mengandalkan modal inetelektual. Sebuah syarat untuk menghasilkan generasi yang berkualitas, generasi yang siap menjawab tantangan zaman. Kita tak boleh lagi menjadikan organisasi ini menjadi tempat mencari jawatan, apalagi tempat mencari makan. Model- model semacam itu sudah ketinggalan zaman, sudah tak lagi cocok dengan perkembangan zaman. Kini saatnya, organisasi kita harus dikelola untuk mempersiapkan iklim yang bisa melahirkan “Indonesia masa depan”, melahirkan kembali “kejayaan Nusantara”.

Tentunya, kita tak boleh juga meninggalkan identitas kita. Maka keistimewaan jogja menjadi isinya, ia sebagai sumber identitas kita, rumah kita pulang dan tempat kita menimba nilai-nilai keluhuran. Dan Renaissance Yogyakarta menjadi spirit kita, menjadi elan vital kita. Disinilah kesesuaian antara spirit perjuangan dan isi perjuangan itu harus sinkron, harus konsiten kedua-duanya, harus dwi tunggal. Tak bisa dipisah- pisahkan, tak bisa dijalankan hanya satu saja dan yang satu ditinggalkan.
Kedua-duanya harus melebur dalam program organisasi kita, melebur dan menjadi roh tindak-tanduk organisasi kita. Ia tak boleh hanya menjadi pajangan, tak boleh hanya jadi artefak semata dalam organisasi kita. Ia harus benar-benar melebur, bersatu padu dengan program, dengan semua kerja-kerja organisasi kita. Sebab hanya satunya kata dan perbuatan saja yang bisa membawa kita pada keberhasilan, pada kesuksesan mencapai apa yang selama ini kita impikan.

Semoga Tuhan memberkati kita..!!! Merdeka…!!!

Terimakasih..

Wasslamu’alaikum warohmatulloh hiwabarokatuh.

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *