Pemuda: Menjawab Tantangan Zaman

Pada mulanya, saat situasi penjajahan kolonial dirasakan semakin menyengsarakan rakyat Indonesia masa itu. Penerapan tanam paksa oleh pemerintahan kolonial mengakibatkan kemiskinan merajelala, yang nyaris membuat hidup masyarakat jauh dari layak. Di situasi semacam ini, dunia sedang bergema dengan kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang di semenanjung Liao Tung tahun 1905, yang merupakan bukti bahwa bangsa Barat bisa juga dikalahkan oleh bangsa Timur. Semangat ini menyebar ke seantero dunia, hingga muncul Gerakan Turki Muda yang pada akhirnya menimbulkan revolusi pada tahun 1908, pergerakan di India, sampai gerakan Pan-Islamisme.

Momentum ini ditangkap oleh sosok pemuda yang sudah mengeyam pendidikan sebagai akibat politik etis seperti Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Cipto Mangunkusumo dan kawan-kawannya yang mencoba memahami keadaan sosial masyarakatnya dan mencoba mengambil aksi. Mereka menuntut untuk diberi ruang dalam berserikat dan menyuarakan pendapat. Munculah organisasi semacam Budi Utomo, dan Serikat Islam, yang tak jarang, tangan besi penguasa kolonial Belanda membuatnya lemah namun mereka terus berusaha bergerak, berjuang dalam memperbaiki nasib rakyat Pribumi (Indonesia). Begitu pula, di dalam perkembangan berikutnya muncul pula organisasi seperti Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama yang juga kelahirannya tak lepas dari perubahan lanskap politik dunia.

Pasca Perang Dunia 1, perekonomian dunia mengalami krisis dan banyak negara yang mengalami kebangkrutan, berbarengan dengan itulah pula muncul benih kemerdekaan yang diimplementasikan dalam semangat sumpah pemuda dengan tema besar persatuan. Puncak krisis ekonomi terjadi pada tahun 1929 dan dikenal sebagai zaman Malaise. Depresi Besar besar tahun 1930an menyambar Hindia-Belanda, hingga membuat taraf hidup masyarakat pribumi berada di taraf yang mengenaskan. Situasi ini berpengaruh terhadap perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Setelah Perang Dunia I, corak dan haluan berbagai organisasi Pergerakan Nasional Indonesia berubah ke arah yang lebih tegas, lebih berani, dan lebih keras. Sikap Presiden Wilson pada akhir Perang Dunia I yang menganjurkan agar bangsa-bangsa di dunia yang masih dijajah diberi hak untuk menentukan nasib sendiri, juga memberi corak radikal dari berbagai organisasi Pergerakan Nasional.

Sebaliknya, Perang Dunia I menimbulkan kesulitan bagi pemerintah Kerajaan Belanda.  Situasi ini menjadi katalisator bagi para pemuda seperti Soekarno, Moh, Hatta, Sutan Syahrir untuk menyambung nafas perjuangan nasional Indonesia. Pemuda di zaman ini berhasil mengoyak gundukan penjajahan yang membebani punggung rakyat Indonesia dengan arus dan deru pergerakan yang semakin besar. Dalam masa berakhirnya PD I, pemuda di zaman ini berhasil menguatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri. Namun selang beberapa waktu, mumculah Jepang sebagai kekuatan baru di Asia Pasifik. Kekuatannya pun semakin diperhitungkan. Jepang berhasil menandingi kekuatan lama dari negara-negara imperialis. Hingga ia berhasil mendepak Belanda yang sudah bercokol lama di Indonesia. Kemudian, saat Perang Dunia II meletus, Jepang keluar sebagai pihak yang kalah. Bangsa Indonesia dibawah kekuasaan Jepang, berada di kondisi kekosongan kekuasaan. Di tengah situasi ini, kembali pemuda menjawab tantangan zaman yakni menuntut Sukarno dan Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Lahirlah apa yang selama itu diimpikan oleh jutaan rakyat Indonesia yakni Indonesia sebagai nasion, pada tanggal 17 Agustus 1945, yang menurut Ben Anderson disebut sebagai revolusi pemuda.

Diraihnya kemerdekaan, lantas tak membuat gerak pemuda surut di telan oleh zaman.  Di tahun 1960an, dunia sedang berada dalam perang dingin. Arus perang dingin juga merasuki alam gerakan pemuda waktu itu. Perpecahan diantara gerakan-gerakan pemuda juga terjadi, sejalan dengan garis kekuatan dunia yang sedang beradu dalam perang dingin. Namun tak lama, pendulum global pada dasawarsa 1960an bergerak ke arah tak terduga. Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan yang paling menonjol. Sedangkan di era 1965, kondisi ekonomi Indonesia berada dalam stagnasi dan inflasi yang cukup tinggi. Situasi ini menuntun bergeraknya pemuda dan mahasiswa dalam menumbangkan Orde Lama, dan berhasil menjadikan Soeharto bersama Orde Baru naik tahta.

Di bawah kungkungan rezim Orde Baru, gerakan pemuda justru berhasil bertahan dalam posisi yang cukup sulit. Namun situasi nasional dibayang-dibayangi lumpuhnya kegiatan ekonomi, karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Yang kemudian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir. Hingga di akhir 1997, mata uang, pasar bursa, dan harga aset beberapa ekonomi Asia Tenggara jatuh, krisis moneter pun tak bisa terhindarkan. Situasi demikian, dibaca oleh pemuda dengan gerakan mahasiswa untuk membuat Soeharto limbung dari kursi kepresidenan dan menuntut satu sistem tata pemerintahan yang baru.

Dalam hal ini, kita dapat mengambil pesan bahwa gerakan pemuda selalu mengambil peranan dalam momen yang menentukan. Pembacaan pergerakan dunia yang kemudian diaktualisasikan dalam sikap pergerakan nasional selalu berhasil menjawab tantangan dan tuntutan perubahan zaman. Dan sejarah berhasil mengujinya. Namun setelah maraknya globalisasi ekonomi pasca reformasi, suara kaum muda seolah tertimbun oleh gemerlapnya budaya popular dan hedonisme. Pemuda masa kini banyak yang terjebak ke dalam budaya konsumen. Sehingga banyak dari mereka hanya sibuk berbicara gaya hidup dan pergaulan bebas. Zaman telah berubah, terjeratnya kaum muda ke dalam budaya konsumerisme menciptakan karakter pemuda yang kurang peka terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di sekitarnya, mereka akhirnya hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri.

Dalam situasi kekinian, kepulauan Asia Tenggara sedang menjadi pusat perdagangan dunia pasca bergesernya poros dari Atlantik ke Pasifik. Untuk pertama kalinya sejak permulaan abad ke -16, konsentrasi perekonomian dunia tak lagi ditemukan di Eropa, bukan pula di Amerika, melainkan di Asia. Beberapa pemikir Geopolitik dari Eropa dan Amerika menyebut pergeseran ini sebagai ”the end of the Atlantic era”. Dimana menurutnya kini fokus analisa geopolitik telah bergeser dari Eropa ke Asia. Karena itulah posisi Samudera Pasifik dan Samudera Hindia menjadi kian signifikan dalam konstelasi geopolitik di abad 21 ini.

Bahkan pasca kejatuhan bursa keuangan pada tahun 2008 memicu serangkaian krisis yang berpotensi untuk mengubah dunia sebagaimana yang kita kenal selama ini. Jutaan orang di seluruh  dunia telah kehilangan pekerjaan, rumah dan tabungannya. Kelayakan kredit Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jepang, negara-negara inti di orde ekonomi dunia, mulai dipertanyakan. Amerika Serikat dan Eropa, negara-negara kapitalis dunia dibayang-bayangi kebangkrutan dan jeratan hutang. Disinilah muncul diskursus pada banyak kalangan yang menyimpulkan bahwa Amerika Serikat tengah mengalami kemunduran pengaruh secara perlahan dalam jangka panjang. Dan krisis keuangan global 2008 merupakan sinyal dari berakhirnya model keuangan kapitalisme AS. Banyak pengamat melihat bahwa kemunduruan ekonomi AS dewasa ini sebagian dari pergerseran historis (historical shift) yang menandai telah berakhirnya “Abad Amerika”  (American Century).

Dalam hal ini, Jeffrey Sach menyatakan bahwa dominasi AS di dunia akan segera berakhir pada kuartal kedua abad ke-21, ketika Asia menggeser AS sebagai pusat gravitasi ekonomi dunia. Situasi yang dihadapi AS kini sering digambarkan mirip dengan yang dialami Inggris di awal abad ke-20, yang perlahan namun pasti surut dari posisinya sebagai kekuatan hegemoni global. Justru saat ini China adalah kekuatan ekonomi yang tak bisa diremehkan, yang menguasai sepertiga cadangan devisa dunia dan relatif tidak terpengaruh krisis ekonomi global. Dengan cadangan devisanya yang mencapai lebih dari 1,9 triliun dolar AS, China dapat berbuat banyak guna menata perekonomian global. Pada akhirnya, kita tidak mungkin memungkiri kenyataan bahwa China hari ini adalah pesaing sah Amerika Serikat.

Namun apa boleh dikata, sepertinya gerakan pemuda tak juga merespon perubahan ini. Di situasi semacam ini, gerakan pemuda nampak semakin terasing dan tak kunjung berbenah diri. Di lain sisi, menurut data BPS Maret 2015, 28,59 juta masyarakat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan menurut rilis data BPS Februari 2015, 62,96 persen penduduk Indonesia masih berpendidikan rendah (SMP ke bawah). Lantas, apa yang harus kita perbuat?

Apabila kita merujuk sejarah dari peran pemuda, kuncinya ialah adanya cara pandang baru dalam melihat diri dan dunia di sekeliling kita sampai pada pergerakan diri dan pergerakan dunia. Dan cara pandang baru ini lahir di dalam sebuah wadah, yang disebut organisasi. Disinilah peran organisasi pemuda layaknya KNPI, yakni mendidik para pemuda agar bisa melihat persoalan yang menimpa bangsanya, memberikan kesadaran akan pentingya perubahan sosial. Dan inilah tantangan zaman kita, yakni harus mampu mendidik kaum muda yang sedang berada dalam keasyikan gaya hidup konsumerisme dan budaya populer. Sebuah persoalan yang tak mudah. Namun bukan berarti itu tak bisa.

 

Fitroh Nurwijoyo Legowo, Ketua Umum terpilih,

DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DIY masa bhakti 2015-1018

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *