Cahaya dari Puro Pakualaman

Pura Pakulaman didirikan oleh Pangeran Natakusuma. Sebagai pusat kebudayaan masa lampau, magnet cahaya itu terpancar dari nuansa misteri yang menyelubunginya, baik karena bentuk bangunannya yang anggun dan artistik maupun nilai-nilai tradisi yang terdapat di dalamnya. Nuansa misteri inilah yang membuat kebanyakan orang ingin tahu apa yang terdapat di balik tembok pelindung Pura Pakualaman. Siapa sangka bahwa Pangeran Natakusuma yang kemudian menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Paku Alam I, adalah seorang yang ahli dalam bidang kesusastraan dan kesenian. Karya-karya beliau termasuk sebagai sastra “cita rasa tinggi yang dapat dijadikan sebagai sarana nyata untuk berkontemplasi”. Bukan hanya itu, dari pura Pakualaman pula kita menganal Pangeran Ario Notodirodjo, yang dikenal sebagai raja pembaharu. Dimana ia pernah membentuk organisasi dana bantuan belajar Jawa bernama Darmo Woro, Yang membantu masyarakat Jawa untuk bersekolah ke Eropa dan belajar dengan sistem pendidikan modern. Intelektualitas keluarga Pakualaman dimulai pada masa Sri Paku Alam V ini, beliau merupakan perintis di bidang pendidikan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dari kalangan kerabat Pura Pakualaman muncul tokoh-tokoh pergerakan nasional.

Kita juga mengenal sosok Soerjopranoto, ia bergelar “Raden Mas” dan ia dikenal sebagai pangeran yang sangat merakyat. Ia adalah tokoh perjuangan nasional yang sangat anti terhadap kolonialisme Belanda. Diceritakan oleh Budiawan dalam bukunya Anak Bangsawan Bertukar Jalan, bahwa Raden Soerjopranoto kerapkali melihat di tempat kerjanya (Controleurs Kantoor), teman-temannya sesama pegawai bumiputera rendahan sering dimarahi oleh para pejabat kolonial dengan kata-kata “Inlander, bodoh-pemalas”. Kata-kata itu walau bukan di alamatkan padanya, cukup menyesakan hatinya. Hingga pada suatu hari, gejolak di hatinya itu meledak. Sebagai sebuah wujud pembelaannya kepada seorang pegawai rendahan bumiputera yang kerap dihina itu, ia menempeleng pejabat kolonial yang notebene adalah atasannya di kantor. Penempelengan oleh seorang pegawai bumiputera terhadap pejabat kolonial yang notabene atasannya dan berkulit putih merupakan sesuatu yang sulit dibayangkan. Bahkan hal itu di luar kewajaran pikiran masyarakat Indonesia waktu itu, yang masih beranggapan bahwa orang Belanda/Eropa, berkulit putih adalah seorang yang superior. Dan kita adalah seorang Inlander, yang inferior.

Namun Raden Soerjopranoto melakukan itu karena dirinya tidak rela sesamanya di hina, tak rela saudara sebangsanya itu di injak-injak harga dirinya oleh orang lain, walaupun ia dianggap oleh sebagian besar orang sebagai ras superior sekalipun. Ia rela dipecat demi membela harga diri bangsanya yang dihina oleh bangsa lain. Disinilah Raden Soerjopranoto sebagai seorang pertama yang berani menampik hegemoni dan dominasi kolonial dalam kehidupan nyata dan dalam tindakan yang nyata pula. Bukan hanya itu, Raden Soerjopranoto juga pernah mendirikan organisasi bernama Mardi Kaskaya, berdiri pada tahun 1900, yang kurang lebih mirip seperti koperasi simpan pinjam. Tujuannya adalah untuk membantu dan membebaskn rakyat kecil dari penghisapan rentenir. Bahkan dengan kehadiran Mardi Kaskaya, ruang gerak rentenir semakin berkurang. Kemudian di tangan beliau organisasi ini menjadi simpul perjuangan yang kongkrit dan sistematik. Dimana organisasi ini membuka harapan baru bagi kesejaheraan ekonomi masyarakat Jawa waktu itu, yakni dengan dikembangkannya usaha kerajinan tangan. Rakyat mulai dapat menikmati bantuan modal dan mulai dibimbing untuk menciptakan kerja sambilan yang menghasilkan. Disinilah Raden Mas Soerjopranoto dapat disebut sebagai pelopor ekonomi kerakyatan.

Yang lebih menarik lagi, di tahun 1901 Raden Mas Soerjopranoto pernah mendirikan klub pertemuan yang bernama Societeit Sutrohardjo, dimana klub jika di gambarkan pada era saat ini lebih mirip seperti bibliotheek atau sebuah gerakan literasi seperti taman pustaka. Dalam grup ini, semua orang bisa membaca berbagai bahan bacaan seperti surat kabar dan majalah, baik terbitan dalam negeri maupun luar negeri. Melalui grup inilah beliau memulai cita-citanya menuju zaman baru, yakni zaman Indonesia merdeka dimana rakyatnya dapat melek ilmu pengetahuan modern dan terhindar dari kebodohan. Bersamaan itu beliau juga bergabung dengan “Boedi Oetomo” yang didirikan pada 20 Mei 1908. Beliau juga pernah mendirikan organisasi bernama Adhi Dharma, yakni suatu badan yang bekerja secara hebat di lapangan pendidikan dan di bidang perjuangan dan pembangunan sosial-ekonomi. Lapangan kerjanya ialah pendidikan ketrampilan, bursa buruh, bantuan hukum (bagi rakyat kecil yang terkena perkara di pengadilan serta biasanya karena kurang pengetahuannya selalu menjadi mangsa bagi para penipu atau pemeras), juga di bidang koperasi, dan memiliki sebuah Brigade kesehatan. Segala usaha dan langkah dari setiap bagian diarahkan kepada suatu misi, untuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan rakyat, untuk meningkatkan dan menertibkan kehidupan di bidang sosial-ekonomi, dan melindungi rakyat dari pemerasan, penipuan, dan permainan-permainan busuk lainnya dari para penguasa kolonial di zaman itu (Bambang Sukawati, 1983 : 72).

Kemudian, dari rahim pura Paku Alaman pula kita mengenal sosok Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ia salah satu pendiri Indische Partij, partai politik pertama yang menjelaskan tujuannya kearah Indonesia merdeka. Hal yang berani dilakukan oleh Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara yakni ketika pada tahun 1913, pemerintah kolonial Belanda berencana membuat pesta besar-besaran untuk memperingati lepasnya “negeri kincir angin” itu dari penjajahan Perancis. Soewardi Soerjaningrat menulis karangan berjudul “Als ik een Nederlander was” (“Kalau saya seorang Belanda”). Dimana ia mengkritik pesta besar itu akan digelar di Hindia-Belanda, negeri yang notabene masih dijajah oleh Belanda. Lebih parah lagi, untuk membiayai pesta itu, pemerintah kolonial mau menarik “uang” dari Rakyat. Karangan ini sempat membuat panas telinga para pejabat kolonial. Namun Ki Hajar tak gentar. Pada tahun 1922 ia mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa dengan asas utamanya Kemerdekaan Diri dengan dasar Nasional. Tujuan Taman Siswa adalah mengembangkan edukasi dan kultural. Melalui Taman Siswa lah seharusnya pendidikan nasional kita dibangun. Pendidikan nasional menurut paham Taman Siswa adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang  dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya.

Meski hanya sebagai kadipaten, Pura Pakualaman ternyata memiliki peran nyata dan kontribusi besar bagi tegak dan berdirinya republik Indonesia yang merdeka. Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Ternyata ia bukan hanya sekedar keraton biasa, bukan hanya sekedar rumah segelintir bangsawan. Namun ia adalah simpul perjuangan, dapur dimana Indonesia merdeka itu dipikirkan, dibayangkan dan dimenangkan. Di pura itulah “cahaya” untuk Indonesia merdeka itu lahir, air sejuk keadilan itu mengalir ke tanah rakyat yang mengalami ketertindasan dan kemiskinan. Di pura itu, sederet nama-nama tokoh besar itu dicetak, sederet tokoh besar yang gigih memperjuangkan keadilan dan kebenaran sampai titik penghabisannya itu di tempa.

Dan kemarin kita berduka karena Sri Paduka Pakualam IX telah mangkat namun kini KBPH Suryodilogo telah dinyatakan sebagai penerus Paku Alam IX yakni Sri Paduka Pakualam X. Pura Pakualam telah mendapat pemimpin baru. Tentunya kita mengucapkan selamat untuk Sri Paduka Pakualam X yang telah diangkat. Dan pastinya harapan kita para pemuda, dengan pemimpin baru, pura Paku Alaman tetap menjadi keratonnya rakyat, tetap mempertahakan semangatnya untuk mengabdi kepada dan bersama rakyat. Harapan kita tentunya pura Paku Alaman bisa kembali mencetak para tokoh besar yang memiliki ide pembaharuan bagi Indonesia. Kita berharap agar “cahaya” dari pura Paku Alaman tetap terus menyinari Yogyakarya dan menerangi Indonesia. Meneranginya dengan semangat pencerahan dan pengetahuan yang membebaskan.

Fitroh Nurwijoyo Legowo

Ketua DPD KNPI DIY

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *